Apa itu Resonansi Sunyi ?

Budaya Percepatan dan Kehilangan Ruang Jeda

Perkembangan teknologi dan budaya hidup serba cepat telah membentuk ritme kehidupan modern yang terus bergerak tanpa jeda. Kecepatan menjadi standar baru dalam bekerja, berkomunikasi, bahkan dalam memproses emosi dan pengalaman hidup.


Di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kelelahan mental yang perlahan semakin masif. Manusia modern semakin terbiasa mengejar hasil instan, namun semakin jarang memiliki ruang untuk berhenti dan mendengar dirinya sendiri.


Resonansi Sunyi berkembang dari kegelisahan terhadap situasi tersebut. Project ini hadir sebagai upaya menciptakan ruang alternatif yang memungkinkan tubuh, bunyi, dan keheningan bekerja sebagai medium refleksi psikologis melalui pengalaman seni pertunjukan.

Overhead view of a bustling crowd at a metro station platform in Taipei, Taiwan.

Tentang Pertunjukan

Resonansi Sunyi merupakan karya teater eksperimental yang mengintegrasikan gerak dasar Silat Terumbu dengan bunyi tradisional Banten seperti Angklung Buhun, Bedug, dan Karinding ke dalam pengalaman pertunjukan yang reflektif dan imersif.


Pertunjukan tidak menggunakan struktur dramatik konvensional. Tidak terdapat alur cerita linear maupun dialog antar tokoh. Pengalaman pertunjukan dibangun melalui komposisi gerak lambat, repetisi tubuh, atmosfer bunyi, dan relasi ruang yang intim antara performer dan penonton.


Pertunjukan dirancang menggunakan konsep arena, di mana penonton mengelilingi performer dalam jarak dekat untuk membangun pengalaman yang lebih personal dan emosional.

Manifesto


Resonansi Sunyi bukan sekadar pertunjukan untuk ditonton, tetapi ruang untuk mengalami kembali tubuh, bunyi, dan keheningan di tengah kehidupan yang semakin bising.