Ketika mendengar kata bising, kebanyakan orang akan membayangkan sesuatu yang keras. Mesin yang meraung. Kendaraan yang saling bersahutan. Pengeras suara yang terlalu kencang. Keramaian pasar. Deru kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Bising selalu diasosiasikan dengan suara. Namun semakin lama saya merasa bahwa kebisingan tidak selalu hadir dalam bentuk bunyi.
Ada kebisingan yang jauh lebih halus.
Kebisingan yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi terus memenuhi perhatian.
Kita hidup di zaman yang dipenuhi oleh ajakan untuk memperhatikan sesuatu. Sebuah layar meminta kita melihat. Sebuah notifikasi meminta kita merespons. Sebuah berita meminta kita mengetahui. Sebuah gambar meminta kita berhenti menggulir. Sebuah percakapan meminta kita berpendapat. Setiap hari, berbagai hal berlomba-lomba untuk memasuki ruang kesadaran kita. Sedikit demi sedikit, perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan. Tanpa disadari, kita terbiasa berpindah dari satu hal ke hal lain dengan sangat cepat. Mata bergerak. Pikiran bergerak. Perhatian bergerak. Namun tubuh sering kali tertinggal. Kita hadir di banyak tempat sekaligus, tetapi tidak sepenuhnya berada di mana pun.
Kebisingan semacam ini sulit dikenali karena ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak mengganggu seperti suara mesin yang memekakkan telinga. Ia justru terasa normal. Kita menganggap wajar untuk memeriksa telepon beberapa kali dalam satu menit. Kita menganggap wajar untuk mendengarkan seseorang sambil memikirkan hal lain. Kita menganggap wajar untuk makan sambil menonton, berjalan sambil membaca, atau beristirahat sambil tetap menerima aliran informasi yang tidak berhenti. Perlahan-lahan, perhatian yang utuh menjadi sesuatu yang langka. Padahal perhatian adalah pintu masuk bagi pengalaman. Apa yang tidak memperoleh perhatian, hampir tidak pernah benar-benar dialami.
Saya mulai menyadari hal ini ketika memperhatikan cara saya sendiri mendengar. Sering kali saya berada di sebuah tempat selama berjam-jam tanpa benar-benar mengetahui bagaimana tempat itu berbunyi. Saya mengenali suara-suara yang ada di sana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mendengarkannya. Saya tahu ada kendaraan lewat. Saya tahu ada orang berbicara.
Saya tahu ada angin yang bergerak. Tetapi pengetahuan itu berbeda dengan pengalaman. Mengetahui bahwa suara ada bukan berarti mengalami suara tersebut. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat besar. Karena di sinilah saya mulai melihat bahwa mendengar bukan hanya aktivitas telinga. Mendengar adalah aktivitas perhatian.
Di sebuah ruangan yang tenang, kita mungkin merasa tidak ada apa-apa yang terdengar. Namun ketika perhatian mulai melambat, lapisan-lapisan bunyi yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul.
Dengung listrik.
Gesekan kain.
Napas.
Getaran kecil dari benda-benda di sekitar.
Jauh di luar ruangan, suara kendaraan yang sesekali melintas. Bunyi-bunyi itu sebenarnya selalu ada. Yang berubah bukan lingkungannya. Yang berubah adalah kualitas perhatian kita. Kita mulai menyadari bahwa dunia jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita dengar. Mungkin karena itulah saya mulai tertarik pada gagasan tentang sunyi. Bukan karena dunia terlalu berisik. Melainkan karena saya mulai melihat bahwa kebisingan terbesar sering kali terjadi di dalam diri kita sendiri. Ia muncul dalam bentuk pikiran yang tidak pernah berhenti bergerak. Dalam bentuk dorongan untuk selalu merespons. Dalam bentuk kebutuhan untuk terus mengisi setiap ruang kosong. Dalam keadaan seperti itu, bahkan ketika dunia menjadi sunyi, kita tetap tidak dapat mendengarnya. Karena yang penuh bukan ruang di sekitar kita. Melainkan perhatian kita.
Barangkali persoalannya bukan bahwa dunia kehilangan sunyi. Barangkali sunyi masih ada di tempat yang sama seperti dulu. Di sela-sela percakapan. Di antara dua tarikan napas. Di dalam gema sebuah bunyi yang perlahan menghilang. Di dalam ruang kosong yang tidak segera kita isi. Yang berubah adalah kemampuan kita untuk tinggal di sana. Kemampuan untuk berhenti cukup lama. Kemampuan untuk mendengar tanpa terburu-buru memahami. Kemampuan untuk hadir. Dan mungkin, sebelum berbicara tentang resonansi, tubuh, atau karya yang lahir dari pencarian ini, kita perlu mengajukan satu pertanyaan sederhana:
Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengar sesuatu hingga selesai?
