Sebelum Bunyi

bghero2

Ada suatu masa ketika saya mengira mendengar adalah perkara yang sederhana.

Suara datang dari luar. Telinga menerimanya. Pikiran mengenalinya. Selesai.

Kita mendengar kendaraan yang melintas, percakapan orang lain, dering telepon, musik yang diputar di ruang publik, atau suara notifikasi yang muncul berkali-kali dalam sehari. Bunyi hadir di mana-mana dan seolah tidak pernah berhenti mengelilingi kehidupan kita.

Namun semakin lama, saya mulai merasa bahwa ada sesuatu yang hilang.

Bukan bunyinya.

Justru karena bunyi terlalu banyak.

Kita hidup dalam dunia yang semakin penuh oleh suara, informasi, gambar, pesan, dan berbagai bentuk gangguan perhatian. Segala sesuatu berlomba untuk didengar, dilihat, dan diperhatikan. Dalam keadaan seperti itu, saya mulai bertanya-tanya: apakah kita masih benar-benar mendengar?

Atau sebenarnya kita hanya mengenali bunyi tanpa pernah mengalaminya?

Pertanyaan itu muncul bukan dari ruang teori, melainkan dari pengalaman sehari-hari yang sangat sederhana.

Suatu ketika saya menyadari bahwa saya dapat menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan berbagai suara tanpa benar-benar mengingat satu pun darinya. Bunyi hadir, lalu berlalu begitu saja. Ia tidak meninggalkan jejak. Tidak menyentuh tubuh. Tidak mengubah apa pun.

Saya mendengar, tetapi tidak hadir.

Sejak saat itu perhatian saya perlahan bergeser.

Saya mulai tertarik pada momen-momen yang sering terlewatkan: dengung halus di dalam ruangan, gema langkah kaki di lantai, getaran yang merambat melalui benda-benda, atau jeda pendek yang muncul di antara dua bunyi.

Di sanalah saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.

Bunyi tidak hanya terjadi di luar tubuh.

Bunyi juga terjadi di dalam tubuh.

Ia tidak sekadar terdengar. Ia beresonansi.

Getaran sebuah suara dapat merambat melalui dada. Sebuah denting dapat meninggalkan jejak yang bertahan lebih lama daripada bunyinya sendiri. Kadang-kadang yang paling membekas bukanlah suara yang keras, melainkan getaran yang nyaris tidak terdengar.

Kesadaran itulah yang membawa saya pada sebuah kata yang kemudian menjadi pusat perjalanan ini: resonansi.

Dalam pengertian paling sederhana, resonansi adalah peristiwa ketika suatu getaran diterima dan diteruskan oleh sesuatu yang lain. Sebuah benda bergetar karena benda lain bergetar. Sebuah ruang hidup karena bunyi yang melaluinya. Sebuah tubuh tergerak karena sesuatu menyentuhnya.

Tetapi semakin jauh saya menelusurinya, resonansi tampak lebih dari sekadar fenomena fisika.

Ia menjadi cara untuk memahami hubungan.

Hubungan antara bunyi dan tubuh.

Hubungan antara tubuh dan ruang.

Hubungan antara manusia dan kehadirannya sendiri.

Dari sana muncul pertanyaan lain yang jauh lebih sulit dijawab:

Jika resonansi adalah kemampuan untuk menerima dan meneruskan getaran, apakah manusia modern masih memiliki kemampuan itu?

Atau justru kita telah menjadi terlalu penuh untuk beresonansi?

Buku ini lahir dari pertanyaan tersebut.

Ia bukan upaya untuk memberikan jawaban yang pasti. Ia juga bukan panduan tentang cara mencapai ketenangan atau menemukan makna tertentu. Buku ini adalah catatan perjalanan; perjalanan yang berawal dari rasa ingin tahu terhadap bunyi, kemudian membawa saya pada tubuh, ruang, tradisi, dan akhirnya pada sebuah karya yang saya beri nama Resonansi Sunyi.

Karya itu mungkin memiliki bentuk sebagai pertunjukan.

Namun sebelum menjadi pertunjukan, ia adalah pencarian.

Pencarian terhadap cara mendengar yang berbeda.

Pencarian terhadap tubuh yang masih mampu merasakan.

Pencarian terhadap ruang yang tidak sekadar ditempati, tetapi dialami.

Dan mungkin, pencarian terhadap sunyi yang selama ini tersembunyi di balik begitu banyak suara.

Sebelum kita berbicara tentang karya, proses, atau berbagai bentuk yang kemudian lahir darinya, saya ingin mengajak Anda berhenti sejenak.

Tidak untuk memahami.

Tidak untuk menyimpulkan.

Hanya untuk mendengar.

Karena mungkin segala sesuatu bermula dari sana.